islam di minang

urangawak

*
*
* Cari

[Urangawak] Kenapa aliran Syiah kok “tidak laku” di Indonesia?

radityo djadjoeri
Tue, 31 Oct 2006 17:45:18 -0800

Beberapa tahun lalu, di layar televisi kita menyaksikan sosok lelaki tua
berjanggut putih. Dialah Ayatullah Khomeini asal Iran yang kembali ke
kampung halamannya setelah bertahun-tahun mukim di Paris, Prancis.
Sebelumnya, pada 3 Desember 1978, UUD Republik Islam Iran diresmikan.
Pada 14 Januari 1979, Shah Iran membentuk Dewan Kerajaan. Namun Imam Khomeini
yang saat itu tengah berada dalam pengasingannya di Paris, mengumumkan
pemerintahan baru revolusioner akan segera dibentuk. Maka bubarlah
Dewan Kerajaan tersebut. Shah Iran Pahlevi yang menjadi boneka Amerika Serikat
akhirnya turun tahta. Sistem despotik pun tergulung tanpa sisa.
Kemudian pada 1980 terjadi perang perbatasan antara Iran dan Irak yang
kini didukung oleh AS.

Di layar kaca pula kita bisa menyaksikan surban kepala yang dikenakan
para pemuka agama Islam aliran Syi’ah – sekilas mirip ‘ubel-ubel’ yang
dikenakan Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol. Kini dibincangkan
nama kelompok Hizbullah di Lebanon dan Ahmadinejad. Mereka semua adalah
Syi’ah. Nah, dari berbagai berita yang menyorot konflik di Timur Tengah itu
paling tidak kita jadi tahu perbedaan antara kaum Syi’ah dan Sunni.

Kini yang menjadi pertanyaan, kenapa aliran Syiah (Shia) kok “kurang laku”
di Indonesia? Apa sebabnya? Kenapa yang berkembang luas hanya aliran
Sunah (Sunni) saja? Kok bisa begitu? Bagaimana sejarahnya?

Jawabanya: Aliran Syi’ah yang sebenarnya pertama kali masuk ke wilayah
Nusantara ternyata kalah bersaing dengan aliran-aliran lainnya. Islam dalam
sejarahnya di Indonesia, antara satu aliran dengan aliran lainnya
saling bersaing secara tak sehat untuk menjadi yang paling benar ajarannya
dan paling dominan kekuasaannya. Untuk menekan kelompok lainnya dihalalkan
dengan melalui jalan kekerasan, teror, dengan dengan saling bunuh-bunuhan.
Tak heran kalau muncul tudingan dari satu aliran ke aliran lain: kelompok ini
“sudah islam tapi kurang islami”, kelompok itu sesat, kelompok anu harus
mengganti nama – jangan bawa panji-panji Islam (seperti baru saja dialami
Ahmadiyah) – dan lain sebagainya. Atas nama aliran yang mereka percayai,
mereka boleh berbuat apa saja,
tak peduli bahwa langkah itu justru merugikan citra Islam secara
keseluruhan.

Islam diperkirakan mulai merembes ke wilayah Asia Tenggara mulai abad
ke-12, namun hanya terbatas di beberapa wilayah tertentu saja. Hindu, Budha
masih kuat. Aliran yang mulai punya pengikut adalah aliran Syiah, Syafi’i
dan Hanafi. Aliran agama Islam berdasarkan fiqh itu biasa disebut dengan
istilah madzhab.

Syi’ah vs Syafi’i di Aceh

Aliran Syi’ah – artinya “partai” atau “golongan” – dibawa oleh para
pendakwah yang mengikuti perjalanan saudagar Gujarat, Persi, dan Arab.
Kala itu aliran Syi’ah memang berkembang di Persia dan Hindustan. Pertama
kali memasuki Perlak dan Samudera Pasai (kini Aceh) atas dukungan
penuh dari dinasti Fathimiah di Mesir. Tentara dari dinasti itu juga
ikut mengawal kapal-kapal dagang.

Semenjak dinasti Fatimiah rontok pada 1268, terputuslah
hubungan antara kaum Syi’ah di pantai timur Sumatra dan kaum Syi’ah di Mesir.
Pada 1284, timbullah dinasti baru di Mesir berjuluk Mamaluk yang beraliran
Syafi’i.
Dinasti Mamaluk mengirimkan pasukan yang dipimpin Syaikh Ismail ke pantai
timur Sumatra untuk memusnahkan aliran Syi’ah setempat. Target utamanya
adalah untuk melenyapkan pengikut Syi’ah di kesultanan Perlak dan Pasai.
Syaikh Ismail berhasil membujuk Marah Silu yang Syi’ah untuk menyeberang
ke aliran Syafi’i. Dua pengikut Marah Silu, Seri Kaya dan Bawa Kaya, ikut
memeluk aliran Syafi’i. Mereka lalu berganti nama menjadi Sidi Ali Chiatuddin
dan Sidi
Ali Hasanuddin.

Sebagai catatan, aliran Syafi’i dirintis oleh Muhammad ibn Idris as-Sayfi’i,
lahir pada
tahun 767. Syafi’i mengajarkan alirannya di Baghdad, kemudian di Mesir.
Dinasti Mamaluk menobatkan Marah Silu menjadi sultan pertama kesultanan
Samudera dengan gelar Malikul Saleh. Selama sultan berkuasa, pengikut Syi’ah
ditindas.

Atas dukungan armada Syaikh Ismail, Marah Silu berhasil menggempur dan
menguasai kesultanan Pasai. Sepeninggal sultan Malikul Saleh, pada 1295 aliran
Syi’ah mendapat angin baru di kesultanan Aru/Barumun, yang dipimpin oleh Malikul
Mansur, putra Malikul Saleh.

Catatan: Marah Silu sebelumnya penganut Hindu. Lalu diislamkan oleh Syi’ah,
kemudian berhasil dibujuk oleh Dinasti Mamaluk untuk mengikuti aliran
Syafi’i.

Di antara para penganjur aliran Syi’ah yang utama di pantai timur Sumatra
ialah darwis dan penyair Hamzah Fansuri dari Baros dan ahli sufi Syamsuddin al
Samatrani pada masa pemerintahan sultan Iskandar Muda. Aliran Syi’ah di
kesultanan Aceh itu pun kemudian dibasmi oleh para pengikut aliran Syafi’i
yang dipimpin oleh Syaikh Nurrudin
Ar-Raniri. Nurruddin adalah seorang ahli sunnah asal Gujarat yang mukim
di Aceh sepeninggal sultan Iskandar Muda. Kitab-kitab ajaran tasawuf
wujudiah (ajaran emanasi) yang berkonsep “saya adalah Tuhan” (ana al-haqq),
dimusnahkan dengan cara dibakar.

Syafi’i di Malaka

Berkat perkawinan putri sultan Zainul Abidin Bahian Syah dari Samudera/
Pasai dengan sultan pertama Malaka Parameswara, aliran Syafi’i berkembang
pesat di pantai barat Semenanjung. Parameswara ikut aliran Syafi’i dan
berganti nama menjadi Megat Iskandar Syah pada 1414. Parameswara adalah
pangeran terakhir dari kerajaan Sriwijaya yang dulunya beragama Budha.

Syi’ah vs Wahabi di Minangkabau

Aliran Syi’ah menjalar dari Aceh ke daerah Minangkabau, yang persebarannya
dimulai sejak 1128. Pada waktu itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan
gerakan militer dari pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk
menguasai hasil lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi
pada 1128. Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang
menganut aliran Syi’ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di Mesir.
Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut ke bandar
Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat.

Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai Aceh, mulai
mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah putra
sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan kesultanan
Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan
menyebarkan ajaran Syi’ah di antara penduduk Minangkabau. Para pengajar
didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan ulama
di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah turun
temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang dilakukan
Tuanku Burhanudin Syah.

Pada 1803, tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji Piobang,
Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan agama.
Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. Sebagai catatan,
ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah ketegangan
antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi’ah dan para pengikut gerakan
Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi’ah di Minangkabau, nyaris
tak tersisa. Di Irak, pada 1801, gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum
Syi’ah, dan berhasil merebut Karbala. Masjid-masjid Syi’ah dan makam-makam
keturunan Hasan
Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara Wahabi
di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, berhasil
merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari
jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari kekuasaan
Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi terkenal
di dunia internasional.

Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang menduduki
Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah orang
asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang tersebut
segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran Hanafi-nya.
Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi di
Minangkabau.

Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi’ah
dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah Perang Padri.
Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi’ah di Minangkabau, nyaris
tak tersisa.

Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan
keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru
tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal
kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama
asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat
menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning
Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan
Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada
tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.

Syi’ah dan Syafi’i di Pulau Jawa

Di Pulau Jawa, aliran Syi’ah mulai mendapat pasaran sejak berdirinya
kesultanan Pajang pada pertengahan abad-16 di Jawa Tengah. Sebagai sultan
pertama adalah Joko Tingkir (Sultan Hadiwijoyo). Wali Syaikh Siti Jenar atau
Syaikh
Lemah Abang adalah penganjur utamanya. Akibat ajarannya Syaikh Siti
Jenar dibakar hidup-hidup oleh para wali lainnya. Syi’ah juga dipandang
‘mbalelo’ karena tak mengakui keimanan dinasti Abasiyah dan Umayah yang aliran
Sunni.

Sementara usaha untuk memperluas aliran Syafi’i di pulau Jawa sampai akhir
abad ke-15 tidak berhasil. Syaikh Maulana Ishak ditugaskan ke pulau
Jawa. Ia singgah di Ngampel Denta dan bertemu dengan Sunan Ngampel.
Dalam Serat Kanda dinyatakan dengan jelas bahwa Syaikh Ishak mendapat
tugas untuk mengislamkan wilayah Blambangan, namun usaha itu tidak
berhasil. Kemudian, ia kembali ke Malaka. Menurut Serat Kanda, Syaikh
Ishak adalah paman Raden Rahmat alias Sunan Ngampel. Sedangkan Sunan
Ngampel adalah pendatang dari Campa, putra Bong Tak Keng, dan aliran
yang diikutinya ialah Hanafi.

Hanafi di Pulau Jawa

Islam aliran Hanafi berkembang di kesultanan Demak. Pada 1526, sultan
Demak mengirim armada untuk menyerang Sembung (Cirebon) dan Sunda Kelapa
(kini Jakarta). Armada Demak dipimpin oleh Fatahillah (Falatehan).
Kin San alias Raden Kusen yang berusia 71 tahun ditunjuk sebagai juru
bahasa.

Karena agama Islam di pantai utara Jawa adalah aliran Hanafi, maka agama
Islam itu tidak disebarkan melalui Selat Malaka dan rembesan dari Sumatra,
baik menurut jalur pelayaran lama maupun baru. Penyambungnya adalah orang-orang
Tionghoa, bukan langsung dari Turkestan, Bokhara dan Samarkand, dimana titik
awal
aliran Hanafi berkembang luas.

Kesimpulan dari saya:
– Islam yang masuk ke Indonesia pada awalnya adalah dari berbagai macam
aliran,
bukan satu aliran saja.
- Masuknya Islam ke Indonesia tidak semuanya dengan jalan damai, tapi melalui
perebutan kekuasaan dan perang. Hal ini akibat keterkaitan yang erat dengan
gerakan Islam politik.
- Walau sesama pemeluk Islam, namun karena berbeda aliran, bisa saling
menjatuhkan dengan menghalalkan segala cara.
- Munculnya kesultanan-kesultanan Islam di wilayah Nusantara disponsori
oleh kekuatan asing di Timur Tengah dan Turki, serta peran serta komunitas
China muslim yang sudah lama mukim di Nusantara.

Kini mayoritas masyarakat Indonesia memeluk Islam beraliran Sunni, dimana
aliran lain tidak bisa berkembang dengan baik.

Sumber: Sebagian dicuplik dari buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu dan timbulnya
negara-negara Islam di Nusantara” karya Prof. Dr. Slamet Muljana
(penerbit LKis, Yogyakarta)

Apabila Anda ingin memiliki buku tersebut silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]

(saya beli di Toko Buku Kalibata seharga Rp 37,000)

========================================

Most Muslims in Indonesia are Sunni, although some follow other
branches of Islam, including Shi’a. According to Shi’a headquarters
in Jakarta, there are between 1 and 3 million Shi’a practitioners
nationwide. In general, the mainstream Muslim community belongs to
two orientations: “modernists,” who closely adhere to scriptural
orthodox theology while embracing modern learning and modern
concepts; and predominantly Javanese “traditionalists,” who are
often followers of charismatic religious scholars and organized
around Islamic boarding schools. The leading “modernist” social
organization, Muhammadiyah, claims approximately 30 million
followers while the largest “traditionalist” social organization
claims 40 million.

Indonesia International Religious Freedom Report 2005

———————————
Do you Yahoo!?
Get on board. You’re invited to try the new Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]

Urangawak – Forum silaturrahmi Urang Awak di mano sajo barado
Anak nagari Minangkabau di rantau sarato nan di Ranah Minang
Yahoo! Groups Links

To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangawak/

Your email settings:
Individual Email | Traditional

To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangawak/join
(Yahoo! ID required)

To change settings via email:
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]

To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

*
[Urangawak] Kenapa aliran Syiah kok “tidak laku” di Indonesia? radityo djadjoeri
o [Urangawak] Kenapa aliran Syiah kok “tidak laku” di Indonesia? Radityo

*
Kirimkan email ke

Lirik lagu Rossa Ft. Pasha Ungu – Terlanjur Cinta

Posting lirik ini di blog anda

waktu bergulir lambat merantai langkah perjalan kita
berjuta cerita terukir dalam menjadi sebuah dilema
mengertikah engkau perasaanku tak terhapuskan
malam menangis tetes
embun membasahi mata hatiku
mencoba bertahan di atas puing2 cinta yang telah rapuh
apa yang ku genggam tak mudah untuk
aku lepaskan
aku terlanjur cinta kepadamu
dan telah kuberikan seluruh hatiku
tapi mengapa kini baru kau pertanyakan cintaku
aku pun tak mengerti
apa salah dan kurangku padamu
kini terlambat sudah untuk di persalahkan
karna sekali cinta aku tetap cinta

Sheila On 7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki

Download lagu Sheila On 7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki gratis hanya untuk review lagu.
Belilah kaset asli atau cd original Sheila On 7 dari album ost. love atau gunakan nada sambung pribadi Sheila On 7 agar meraka tetap bisa berkarya
Lirik / Lyric
Chord dan Lirik Lagu Sheila On 7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki

Video Clip
Tonton Video Clip Sheila On 7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki

Review & Pendapat
Komentar Penikmat musik terhadap lagu Sheila On 7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki

Download
Download mp3 lagu Sheila On 7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki


Lirik lagu Sheila On 7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki

Posting lirik ini di blog anda

Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna – warna indahmu

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlukis jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sifatmu nan s’lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

* :
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu

Back to * :

only u can

Lirik lagu Tiket – Hanya Kamu Yang Bisa

Posting lirik ini di blog anda

Tanpa terasa kau curi hatiku
Dengan berbeda caramu menaklukan hati kecilku
Berjuta rayuan yang pernah ku rasa
Namun tak pernah tersentuh tak ada yang mengesankanku

[#]
Tapi semua berbeda
Saat kau ada disini
Mempesonakan aku selalu

[##]
Hanya kamu yang bisa
Membuat aku jadi tergila-gila
Membuat aku jatuh cinta
Karna tak ada yang lain sepertimu

[###]
Berkali ku mencoba
Berpaling dengan makhluk indah lainnya
Namun tak pernah ku rasakan
Bila seindah bercinta ku denganmu

Back to [#][##][###]

Back to [##][###]

Lirik lagu Sheila On 7 – Yang Terlewatkan

Posting lirik ini di blog anda

Kemana kau s’lama ini
Hingga kalian kunanti
Kenapa baru sekarang
Kita dipertemukan

Sesal tak ‘kan ada arti
Karna semua t’lah terjadi
Ini set’lah menjalani
Sisa hidup dengannya

Reff:
Mungkin salahku… Melewatkanmu…
Tak mencarimu… Sepenuh hati…
Maafkan aku…

Kesalahanku… Melewatkanmu…
Hingga kau kini… Dengan yang lain…
Maafkan aku…

Jika berulang kembali
Kau tak akan terlewati
Segenap hati kucari
Dimana kau berada

Walau ku terlambat
Kau tetap yang terhebat
Melihatmu… Mendengarmu…
Kaulah yang terhebat

mean of my love in you see

Menjalin suatu hubungan asmara memang selalu memberikan kesan yang sangat indah dan anda harus mempertahankannya jika memang sudah sepadan.

Karena cinta tidak akan pernah begitu indah jika tanpa persahabatan yang satu selalu menjadi penyebab yang lain dan prosesnya adalah irreversible.

Seorang kekasih yang terbaik adalah sahabat yang terhebat. Saat anda mencintai seseorang maka jangan pernah berharap bahwa seseorang itu akan mencintai anda dalam kapasitas yang sama. Satu diantara anda akan memberikan lebih dan yang lain akan dirasa kurang. Begitu juga dalam cinta, anda yang mencari dan yang lain akan menanti.

Jadi anda jangan pernah merasa takut untuk jatuh cinta karena akan begitu menyakitkan dan mungkin akan menyebabkan anda sakit atau bahkan menderita. Tapi jika anda tidak mengikuti kata hati maka akan menyebabkan anda akan menangis dan jauh lebih pedih lagi. Karena saat itu anda akan menyadari bahwa anda tidak pernah memberikan cinta itu sebuah jalan.

Sebenarnya cinta bukan hanya sekedar perasaan tetapi sebuah komitmen. Memang perasaan bisa datang dan pergi begitu saja tetapi cinta tidak harus berakhir bahagia karena cinta tidak harus berakhir.

Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan dan mengerti apa yang tidak dijelaskan karena cinta tidak datang dari bibir dan lidah atau pikiran tetapi dari hati yang paling dalam.

Saat anda mencintai seseorang sebaiknya anda jangan mengharapkan apapun sebagai imbalan karena jika anda berpikir seperti itu maka anda bukan mencintai tetapi berinvestasi.

Mencintai seseorang maka anda harus siap untuk menerima penderitaan. Karena saat anda mengharapkan cinta mampu membahagiakan anda maka anda bukan mencintai tetapi memanfaatkan.

Akan lebih baik jika anda kehilangan harga diri dan ego anda bersama seseorang yang anda cintai daripada kehilangan seseorang yang anda cintai. Karena memang mempertahankan ego tidak akan berguna untuk diri anda.

Janganlah anda mencintai seseorang seperti bunga karena bunga akan mati saat musim berganti. Cobalah anda cintai mereka seperti sungai karena sungai akan mengalir selamanya.

Apabila cinta meninggalkan hati anda memang rasanya seperti serpihan kaca yang menyakitkan hati anda. Tetapi tancapkan dalam pikiran anda bahwa akan ada seseorang yang bersedia menyembuhkan luka anda dan mengumpulkan kembali pecahan-pecahan kaca tersebut agar hidup anda kembali utuh. Jadi berjuanglah untuk mendapatkan cinta sejati anda.

Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan :

1. Bebaskan dirimu dari kebencian

2. Bebaskan dirimu dari kecemasan

3. Hiduplah sederhana

4. Berilah lebih banyak

5. Berharap lebih sedikit

6. Tersenyum

fall

atuh Cinta, berjuta rasanya, dibelai, dipegang, amboi rasanya..

Jatuh Cinta berjuta indahnya, tertawa, menangis karena jatuh cinta.!
Oh asyiknya…!

Suara Eddy Silitonga sangat enak terdengar kala mendendangkan syair lagu tadi. Aneh. Kenapa menggunakan istilah ‘jatuh’ cinta? Kenapa tidak memakai istilah ‘mendapat’ cinta? Apakah makna kata ‘jatuh’ mengartikan bahwa cinta itu tiba-tiba jatuh di mana saja, tanpa kenal waktu, usia, dan latar belakang seseorang? Atau apakah ‘jatuh’ berarti orang yang kejatuhan cinta ini tidak bisa mengelak atau menolak?

Semua orang berhak ‘kejatuhan’ cinta, Tetapi, tiap orang akan mendapat dan menerima cinta dengan berlainan kualitasnya. Cinta, seperti apa yang kita serahkan pada orang yang kita cintai? Juga, cinta yang berkualitas, seperti apa yang kita terima dari orang yang mengaku mencitai kita?

Jatuh cinta, apakah ini murni suatu proses yang mengacu pada perasaan saja? Atau, ada logika yang harus ditajamkan? Banyak dari kita menganggap, jatuh cinta merupakan kejadian di mana sese-orang tidak bisa berpikir lagi secara logis. Maka muncul guyonan “Kalau cinta sudah melekat, kotoran kambing pun serasa cokelat”

Masih soal kualitas, benarkah cinta pada pandangan pertama hanya ketertarikan fisik belaka? Apakah benar kita bisa mencintai seseorang pada pandangan pertama?

Kita menyukai seseorang kemudian ingin bertemu lagi dan bertemu lagi. Akhirnya perasaan kangen yang begitu dahsyat, membawa kita pada kecanduan ingin selalu bersama. Setelah itu, berlanjut dengan saling mengenal antarjiwa, apa saja kesukaaannya dan apa saja yang bisa menarik perhatiaannya. Jadi, memang tidak mungkin kita mencintai seseorang begitu melihatnya. Apalagi, tidak ketahuan asal-usulnya, tahu-tahu cinta dengan begitu saja. Cinta tidak menyerang tiba- tiba, tetapi efek ketertarikan membuat cinta tumbuh.

Dengan kenyataan ini, bisa disimpulkan bahwa jatuh cinta merupakan proses emosi yang kompleks. Agar cinta bisa tumbuh dan berkembang, maka cinta membutuhkan waktu berproses. Benar kata-kata dalam lagu Eddy Silitonga, yang menjelaskan jatuh cinta itu suatu proses, di mana kita merasa senang disentuh, dibelai, dan bisa tertawa juga menangis bersama.

Fenomena jatuh cinta, merupakan proses kematangan jiwa yang lengkap. Dalam berproses, tidaklah cukup hanya merasa senang dengan segala perasaaan tertarik ke arah kebutuhan biologis belaka. Jiwa kita menjadi matang dalam berproses jika kita memberi waktu, untuk mengenal lebih dalam, maka akal sehat harus tetap digunakan.

Ketika kita dalam kondisi jatuh cinta, sebaiknya kita respek dengan rambu-rambu yang ada. Jika menyepelekannya, itu bukan pertanda kita jatuh cinta kepada seseorang, tetapi sinyal kebodohan dalam suatu hubungan yang berawal dari ketertarikan. Tertarik kepada seseorang, banyak alasanya, tapi yang pertama terlihat adalah hal yang kasat mata, maka logika akan memberi sinyal untuk akal sehat kita tetap jernih.

Banyak hal terjadi saat mabuk cinta, kita mengidealkan kekasih kita, bukan melihatnya secara realistis, dan ini bom waktu untuk relasi selanjutnya. Jatuh cinta memang mengasyikan, memabukkan, tetapi harus bisa menerapkan logika dalam menjalani proses yang sedang terjadi, agar tidak menjadi kacau pada tahap selanjutnya yaitu menuju niat membangun hidup bersama dalam pernikahan.

Proses jatuh cinta itu menjadi indah dan bermakna untuk kesejahteraan hidup selanjutnya, jika kita mampu menyeimbangkan logika dan perasaaan, maka menghasilkan bukan saja cinta, tetapi cinta kasih.

Kasih, merupakan pengikat yang sempurna dalam relasi cinta, bukan saja antarpasangan, tetapi juga antarindividu. Cinta kasih bisa digambarkan melalui, apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukan tanpa paksaan, tanpa tekanan dari pihak lain. Cinta kasih bukan ego yang menuntut, tetapi suatu penyerahan kasih sayang dengan kerelaan hati.

Cinta kasih membantu seseorang untuk menahan segala tekanan yang dialami dalam pernikahan. Cinta kasih mampu membuat seseorang menaruh kepercayaan kepada yang lain.

Cinta kasih mampu memaklumi seseorang pada saat orang yang kita kasihi sedang lemah dan berbuat salah. Orang yang mencintai dengan segenap batinnya akan senantiasa memberi kebebasan untuk orang yang dicintainya, memilih dan memiliki kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Banyak orang terjebak ingin menguasai kekasih, membatasi pergaulannya, mengatur seleranya berbusana, atau malah berkebalikan yakni menjadi pihak yang selalu mengalah, berbuat apa saja yang diharuskan sang kekasih. Kondisi seperti ini, memberi makna bahwa kita belum siap memberi dan menerima kedatangan ‘cinta’ di mana masing-masing pihak masih bersikeras menggunakan cara sendiri.

Cinta Tidak Buta

Kenyataan di lapangan mengungkapkan bahwa cinta itu tidak buta, tetapi nafsulah yang buta. Di sinilah terlihat beda antara cinta dan nafsu. Banyak pernikahan terjadi didasari nafsu ketertarikan seketika, tetapi diberi label ‘cinta’. Maka, lahirlah kalimat, cinta pada pandangan pertama!

Waktu kita jatuh cinta, segala hal yang negatif disembunyikan.
Sejalan dengan waktu, hal yang tersembunyi ini menjadi masalah di kemudian hari, ketika tak ada tempat lagi untuk menyembunyikannya.

Suatu ketika kita sadar bahwa karakter pasangan kita banyak kekurangan sehingga membuat ketidakcocokan hidup bersama, lalu masalah lain pun menumpuk. Apakah persoalan relasi antarpasangan itu tadi bisa diatasi dengan cinta belaka? Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Maka, cinta saja tidak cukup. Harus menjadi cinta kasih untuk lebih kuat.

Cinta tidak melenyapkan semua masalah. Banyak orang berpikir, jika kita mempunyai cinta, maka segala masalah akan teratasi. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit relasi. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih lebih berani dalam bertindak dan tahan dalam berjuang menghadapi masalah yang ada.

Sangat berbahaya bila kita jatuh cinta berdasarkan menyukai kekasih hanya sebatas fisik, walaupun kita sadar, banyak hal dari dirinya yang kita tidak suka, tidak cocok. Jika kita tergila-gila kepada seseorang hanya karena senang ketika kontak fisik, maka itu bukan jatuh cinta, tetapi hanya nafsu belaka.

Cinta yang tidak buta, sadar akan kekurangan kekasihnya tetapi karena ada cinta di hatinya maka dia bisa mengatasinya dengan berusaha menerima dan memberi toleransi yang besar dengan harapan sang kekasih bisa berubah. Berdasarkan perasaan cinta yang besar, maka keinginan-keinginan tersebut, haruslah didasari dengan maksud baik.

Cinta yang tidak buta, tidak akan memberitahu kekurangan kekasih dengan geram, marah membenci, cinta tidak merasa jijik, cinta tidak mencaci, dan mengungkit-ungkit masa lalu. Tetapi, dengan cinta kita mengingatkan, memberi nasihat, memberi ruang agar sang kekasih menyadari keburukannya, dan mau berubah karena kesadarannya sendiri.

Nafsu bisa membutakan! Banyak orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu, sangat tergila-gila dengan kontak fisik, kecanduan seks pranikah, maka saat menikahinya, menerima saja kekurangan kekasihnya, tanpa keinginan memperbaiki. Hubungan yang didasari nafsu akan cepat jenuh, ketika kekurangan sang kekasih, semakin hari semakin terlihat dan kita lebih kritis untuk menuntut perubahan.
Ketika perubahan tidak juga didapat kita mengkhayal akan datang orang lain yang menggantikannya dan berusaha meninggalkannya. itulah akhir dari pernikahan yang berlandaskan nafsu bukan cinta kasih.

Pernikahan memungkinkan bagi banyak pasangan untuk saling melayani dan saling mengasihi dengan demikian pernikahan makin dikekalkan oleh cinta kasih, sama-sama berusaha menjadi pemberi kebahagiaan pada masing-masing pasangannya.

Sama-sama menghargai kekurangan yang ada, dan sama-sama memberi waktu untuk memperba- iki diri, tidak gengsi untuk meminta maaf jika berbuat salah.

kebiasaan buruk yang merusak otak

. Tidak mau sarapan

Banyak orng menepelekan sarapan, padahal tidak mengkonsumsi makan pagi hari menyebabkan turunya kadar gula dalam darah. Hal ini berakibat pada kurangnya nutrisi pada otak yang akhirnya berakhir pada kemampuan otak

2. Kebanyakan makan

Terlalu banyak makan mengeraskan pembuluh darah otak yang biasanya menuntun kita pada menurunya kekuatan mental.

3. Merokok

Merokok ternyata berakibat sangat mengerikan bagi otak kita. Bayangkan otak kita bisa menyusut dan akhirnya kehilangan fungsi-fungsinya. Tak heran diwaktu tua kita rawan Alzheimer.

4. Terlalu banyak mengkonsumsi gula

Terlalu banyak asupan gula akan menghalangi penyerapan protein dan gizi sehingga tubuh kekurangan nutrisi dan perkembangan otak terganggu.

5. Polusi udara

Otak adalah bagian tubuh yang paling banyak menyerap udara. Terlaalu lama berada di lingkungan berpolusi membuat kerja otak tidak efisien

6. Kurang tidur

Memberikan kesempataan untuk berisrirahat. Sering melupakan tidur justru membuat sel otak mati kekekahan.

7. Menutup kepala ketika sedang tidur

Tidur dengan kepala yang ditutupi merupakan kebiasaan yang buruk yang sangat berbahaya karena karbon dioksida yang diproduksi selama tidur terkonsentrasi sehingga otak tercemar. Jangan heran jika lama-kelamaan otak menjadi rusak.

8. Berpikir terlalu keras ketika sedang sakit

Bekerja keras atau belajar ketika kondisi tubuh sedang tidak fit kuga memperparah ketidakefektifan otak.

9. Kurangnya stimulasi otak

Berpikir adalah cara terbaik untuk melatih kerja otak. Kurang berpikir justru membuat otak menyusut dan akhirnya tidak berfungsi maksimal.

10. Jarang berbicara

Percakapan intelektual biasanya membuat efek bagus pada kerja otak.

Pemuda adalah orang-orang yang berlari menempa ketaqwaan, berlari dan berpacu dengan jiwa-jiwa mereka, mereka adalah orang-orang mujahid linafsi, mereka adalah orang-orang yang berlari mengoptimalkan potensi diri, mereka adalah orang-orang yang berlari merekrut sebanyak-banyaknya pendukung dakwah, dan mereka adalah orang yang memerankan diri seraya berebut mempersembahkan jiwa-jiwa mereka bagi tegaknya islam. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berpangku tangan dan mereka orang-orang yang tidak pernah menyerah, apalagi kalah terhadap kemungkaran. Dan merreka adalah para pembelajar sejati.

Satu hari Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta…?”

“Bagaimana saya bisa menemukanya…?”

Gurunya menjawab, “ Ada ladang gandum yang luas di depan sana, berjalanlah kamu dan tanpa boleh kamu mundur kembali,kemudian ambil satu ranting saja. Jika kamu telah mengambil ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan dan tidak berapa lama dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satu saja?”

“Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana. Jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat ku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan tadi tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya.”

Gurunya kemudia menjawab, “Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya. “ Apa itu perkawinan?”

“Bagaimana saya bisa menemukannya”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur di depan sana, berjalanlah tanpa kamu boleh mundur kembali menoleh dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu sudah menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu arti perkawinan”

Plato pun berjalan dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu…?”

Plato menjawab “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajahi setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi kesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini, Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.”

Gurunya pun menjawab, “ Dan ya itulah perkawinan.”

Catatan kecil :

Cinta itu semakin dicari semakin tidak ditemukan…

Cinta adanya dilubuk hati yang paling dalam, ketika dapat menahan keinginan dan pengharapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan berlebihan akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan…

Tiada sesuatupun yang didapat dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Terimalah cinta apa adanya…


« Entri lama